Poland and a once-in-a-lifetime experience: Auschwitz (3)

Masinis mulai memperlambat laju kereta. Lekuk bayangan stasiun Auschwitz semakin lama semakin jelas terlihat. Sementara itu, ranting pepohonan yang meranggas di hutan samping stasiun berlenggak-lenggok tertiup angin, seakan mengucapkan selamat datang pada kami di desa yang pernah memiliki sejarah kelam di masa lalu ini.

Kabut tipis turun saat kami keluar, mengakibatkan udara terasa lebih dingin. Saya membungkuk untuk mengencangkan tali sepatu boot yang lepas. Mengenakan sepatu boot tinggi pada cuaca seperti ini adalah cara paling ampuh untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat. Persiapan lainnya adalah dengan memakai jaket tebal yang di dalamnya disisipi dengan bulu angsa. Di sebelah saya, Kim meringis kedinginan. Ia berujar bahwa bootnya tidak cukup tebal untuk cuaca hari ini. Setelah menitipkan tas ransel di loker stasiun, kami pun keluar.

20151215_112333
Gerbang masuk Auschwitz Birkenau Memorial and Museum (foto dok. pribadi)

Pemandangan di hadapan sangat mengendorkan semangat. Hampir tidak ada apa pun di depan stasiun tua ini selain satu warung makan, satu supermarket kecil, dan pemberhentian bus kota. Tampak dua gedung di seberang yang warna temboknya mulai luntur dan terkesan terbengkalai. Suasana ini mengingatkan saya pada jalanan besar antar kota – antar propinsi setiap kali mengunjungi rumah nenek saya di Klaten. Entah karena masa lalunya, Auschwitz seperti dikutuk menjadi desa yang sendu.

Kami mampir ke warung untuk membeli makan siang. Saya membeli sup kentang hangat dan menu sayur. Saya kurang familiar dengan masakan khas Polandia. Namun satu hal yang saya sukai tiap bepergian adalah makan di warung atau restoran kecil milik warga asli. Selain dibuat dengan cita rasa lokal, harga yang ditawarkan pastinya lebih ekonomis jika dibandingkan dengan tempat makan di pusat wisata. Dua sejoli tadi ikut juga bersama kami, sementara dua anak muda yang lain sudah duluan berjalan ke lokasi bekas kamp konsentrasi tersebut.

Sambil makan, kami membuka peta dan mengecek seberapa jauh jarak bekas kamp konsentrasi tersebut dari stasiun. Bekas Kamp Konsentrasi Auschwitz kini telah berubah fungsi menjadi museum yang disebut Auschwitz Birkenau Memorial and Museum. Tidak dikenakan biaya masuk ke museum ini jika pengunjung memilih tur tanpa edukator, alat bantu untuk menjelaskan sejarah dan peristiwa, yang berfungsi sebagai pengganti guide wisata. Reservasi kami lakukan beberapa hari sebelum pergi melalui situs web resmi museum. Pada 2015 lalu, kami wajib membawa kertas cetakan tanda bukti reservasi. Dan saat reservasi, kami diharuskan memilih jam tertentu. Pilihan jam dan jenis kunjungan telah disediakan di situs tersebut.

Sebagai tips, pilihlah jam kunjung di atas jam 11 siang, karena kemungkinan besar pengunjung museum datang dari Kraków, yang membutuhkan waktu  tempuh dua jam perjalanan. Hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah saat mengunjungi museum pada musim dingin, jam kunjung hanya sampai pukul 3 sore. Jadi sebisa mungkin diusahakan untuk berangkat menggunakan kereta paling awal dari stasiun Kraków.

20151215_112401
Pagar depan bekas kamp konsentrasi Auschwitz terbuat dari kawat besi dan dialiri dengan listrik untuk mencegah tahanan melarikan diri (foto dok. pribadi)

Sekitar 25 menit kami berjalan dari stasiun menuju ke museum. Museum ini terdiri dari 2 bagian yaitu bekas kamp konsentrasi Auschwitz I dan kamp Auschwitz II-Birkenau. Kim dan saya memutuskan untuk mengunjungi kamp yang pertama terlebih dahulu. Saat sampai terlihat puluhan orang mengantri di depan pintu. Kami spontan bertanya kepada petugas jaga di depan pintu masuk agar menghindari antrian yang tidak perlu. Ternyata benar! Tur individu atau grup kecil bisa langsung masuk dengan menunjukkan bukti reservasi online. Sebelum masuk ke area museum, kami harus melewati pintu pemeriksaan seperti di bandara. Tas besar serta makanan dan minuman wajib dititipkan di loker. Saya merasa pengamanan di museum ini termasuk ketat, karena seluruh staff yang bertugas benar-benar mengamati pengunjung dan berkomunikasi secara intens satu sama lain dengan Walkie Talkie.

Matanya sayu, menggambarkan keputusasaan yang dalam. Dapat bertahan hidup bukan lagi sebuah keniscayaan di tempat ini.

Ada perasaan ganjil saat saya memasuki gerbang museum. Di pintu gerbang tampak tulisan “Arbeit Macht Frei”. Saat saya sedang mengambil gambar, Kim berbisik di telinga saya,” Kamu tahu kah artinya?” Saya menggeleng. “Itu adalah kalimat dari Bahasa Jerman yang artinya bekerja akan membebaskanmu. Tiap- tiap kamp konsentrasi NAZI memasang kalimat tersebut di gerbang masuk. Mereka seolah meyakinkan para tawanan kamp untuk rajin bekerja agar dapat segera dibebaskan. Padahal itu sama sekali tidak benar.” Sampai saya tinggal di Eropa, saya tidak tahu bahwa menyebut NAZI dan simbol yang berkaitan dengannya, haram digaungkan keras keras. Kata-kata ini masih sangat sensitif di telinga penduduk Eropa hingga kini, karenanya Kim berbicara dengan sangat pelan.

Kim kemudian melanjutkan, ” Coba kamu perhatikan huruf B di kata paling depan. Bentuknya agak aneh kan?” Saya mengamatinya dan mengangguk. “Jadi, para tawananlah yang dipaksa membuat pagar dan mengukir kalimat itu. Sebagai ungkapan protes kepada tentara NAZI, mereka membuat huruf B yang tidak sempurna.” Wah, ternyata Kim cukup paham hingga detil tentang sejarah perang dunia. Belakangan saya tahu bahwa novel atau buku sejarah perang dunia adalah ranah favoritnya. Pantas saja, batin saya.

20151215_123917
Bekas bangunan penjara di Kamp Auschwitz. Tahanan dibagi sesuai kewarganegaraan. (foto dok. pribadi)

Kami kemudian melangkahkan kaki lebih dalam ke area kamp. Tampak sejumlah bangunan rapi berjejer di kanan dan kiri. Menurut keterangan yang ada di peta, gedung – gedung ini dahulunya diperuntukkan untuk memenjarakan tawanan-tawanan yang dipekerjakan sebagai budak bagi tentara NAZI dan juga orang -orang yang menjadi subjek penelitian para dokter NAZI. Mereka masing- masing ditempatkan di gedung sesuai dengan kewarganegaraannya sehingga ada satu gedung khusus untuk menampung Yahudi dari Perancis, gedung lainnya untuk menampung Yahudi dari Rumania, Polandia, dan seterusnya.

Ternyata penghuni kamp konsentrasi tidak hanya orang Yahudi, beberapa tentara Polandia, petinggi serta orang penting Polandia juga pernah ditahan disini. Tentu saja, para petinggi ditempatkan di gedung tertentu. Yang kembali mengagetkan saya, orang-orang gipsi dari Eropa Timur juga ikut menjadi korban kekejian NAZI kala itu. Gipsi adalah kaum nomaden yang banyak tersebar di Eropa daratan. Dikarenakan sifatnya yang selalu berpindah pindah dengan tingkat pendidikan yang rendah, kaum gipsi dianggap menjadi salah satu kaum marjinal di Eropa, bahkan hingga saat ini.

Satu demi satu gedung kami masuki. Kondisi tiap-tiap gedung masih dipertahankan sesuai dengan keadaan aslinya. Di banyak gedung, terdapat bekas baju-baju tahanan yang compang – camping, tempat tidur bertingkat yang jumlahnya dipaksakan melebihi kapasitas di tiap kamar. Lembar-lembar catatan para petinggi atau politisi yang tertangkap. Satu hal yang cukup membuat saya menggelengkan kepala, seluruh tahanan dan korban yang dibawa ke kamp konsentrasi didokumentasikan dengan sangat rapi oleh NAZI. Mereka menulis catatan di sebuah buku khusus yang berisikan data tawanan antara lain: nama, tanggal masuk kamp, serta waktu meninggal.

Sebuah gedung yang paling tertancap di ingatan saya adalah gedung dimana terpasang foto-foto tawanan NAZI di hampir seluruh tembok dalam bangunan. Satu per satu saya mengamati raut wajah mereka. Hampir semua tahanan, baik pria maupun wanita, digunduli kepalanya dan diminta memakai baju tahanan. Saya berhenti pada satu foto. Usia tahanan ini masih sangat muda kala itu. Umurnya belum genap 17 tahun. Di bawah bingkai tertulis nama, nomer tahanan, bulan tahun lahir dan meninggalnya. Hanya dua bulan ia mampu bertahan di Auschwitz. Saat mengamati fotonya lekat-lekat. Matanya sayu, mengguratkan kelelahan yang sangat dan keputusasaan yang dalam. Sepertinya ia tahu bahwa garis hidupnya tidak akan panjang. Bertahan hidup di kamp konsentrasi bukanlah sebuah keniscayaan baginya. Saya menahan sekuat tenaga air mata yang sudah berada di pelupuk. Tempat ini begitu menguras emosi dan pikiran saya. Kim menepuk bahu saya, menyadarkan dari lamunan. Kami kemudian menuju ke gedung tempat Yahudi asal Belanda dulu ditahan.

20151215_125026
Bangunan dekat “Gas Chamber”, salah satu cara pembunuhan massal oleh NAZI dengan gas beracun (foto dok. pribadi)

Salah satu kisah yang terkenal dari perang dunia kedua dari Negeri Kincir Angin adalah kisah dari gadis kecil bernama Anne Frank yang menulis diary tentang ia dan keluarganya saat bersembunyi selama dua tahun dari kejaran Gestapo (tentara NAZI) di Amsterdam. Anne dan kakaknya, tercatat meninggal di Auschwitz karena sakit. Sementara ayahnya adalah satu-satunya anggota keluarga yang keluar hidup-hidup dari kamp ini. Ia membawa buku catatan Anne dan beberapa waktu kemudian buku ini terbit. Hingga kini, buku “The Diary of a Young Girl” telah diterjemahkan dalam 60 bahasa (Sumber: Wikipedia).

Pemberhentian kami selanjutnya adalah gedung bekas “Gas Chamber”. Dahulu, gedung ini didesain untuk membunuh sebagian besar tahanan, terutama wanita, anak- anak, dan lansia dengan gas beracun. Membayangkannya saja sudah sangat mengerikan. Karena saya takut tidak dapat menahan perasaan, saya memilih menunggu Kim di luar sambil mengambil gambar bangunan yang dekat dengan bangunan tersebut. Demi menghormati para korban, kami berdua sama sekali tidak melakukan selfie ataupun memotret foto para korban. Gedung yang terakhir yang kami singgahi berisikan memori barang-barang pribadi para korban. Seperti layaknya display di toko, di belakang kaca ditunjukkan tumpukan ribuan sepatu, sisir, alat kosmetik, dan bahkan rambut para korban. Lagi-lagi, saya mencoba untuk tidak terlalu larut agar tidak menjadi semakin sedih. Selesai dengan kamp pertama, kami lalu berjalan menuju tempat berhenti shuttle bus yang akan membawa kami ke kamp Auschwitz II-Birkenau.

Mereka dibagi dalam dua barisan tanpa tahu jika barisan sebelah kiri artinya mati.

20151215_132536
Rel kereta tua yang sudah tidak dipergunakan lagi di bekas Kamp Konsentrasi Auschwitz II- Birkenau (Foto dok. pribadi)

Sekitar 10 menit kami tiba di kamp kedua. Cuaca semakin dingin karena kabut yang turun semakin tebal. Kim mengusap-usap kedua tangannya dan menempelkan di pipi sambil memastikan apakah saya baik – baik saja. Raut wajah saya terlihat sedih setelah mengunjungi kamp pertama. Saya hanya mengangguk sembari melenggang ke arah pintu masuk. Berbeda dengan kamp yang pertama, area ini lebih terbuka, seperti tanah lapang yang sangat luas yang terbelah menjadi dua bagian. Tepat di tengah terdapat rel kereta tua untuk mengangkut para tawanan saat itu. Jauh di seberang kanan dan kiri rel terdapat parit yang dalam serta beberapa menara pengawas. Pagar kawat berduri, yang dahulu dipasang aliran listrik, pun masih berderet kokoh di depannya. Hati saya kembali berdesir mengingat mimpi buruk sebelumnya. Dari banyak foto yang saya lihat di kamp pertama, mulai terukir jelas alur cerita kala itu.

Tawanan yang datang dari seluruh penjuru wilayah pertama kali sampai di tempat ini. Begitu sampai mereka dibagi dalam dua barisan besar, dipisahkan antara pria dan wanita. Para tentara kemudian memanggil mereka satu per satu dan memutuskan mereka akan berada di barisan kanan atau kiri. Sebuah dokumentasi lama yang saya lihat menunjukkan banyak anak – anak, wanita, dan para lanjut usia berada di barisan kiri. Tanpa menunggu lama, para barisan kiri digiring menuju akhir kehidupan. Mereka tidak menyadari bahwa sebelah kiri artinya segera mati dieksekusi. Sementara tahanan sebelah kanan sebagian dibawa ke kamp pertama untuk dijadikan budak tentara maupun kelinci percobaan. Sisanya akan tetap berada di kamp ini. Menurut para saksi hidup, mereka dipekerjakan untuk mengangkut, menggunduli rambut, mengumpulkan perhiasan, serta mencabut gigi para korban eksekusi. Tidak sampai hati saya membayangkan perasaan yang dialami salah seorang survivor Auschwitz yang harus memikul tubuh anggota keluarganya sendiri. Satu kata, tragis!

20151215_133215
Salah satu bangunan tua yang ada di Kamp Auschwitz II- Birkenau

Hujan yang turun tiba -tiba  ditambah dengan suara kawanan burung gagak yang bergerombol di sela – sela pagar besi seolah mengingatkan kami agar segera bergegas. Waktu telah menunjukkan pukul setengah tiga. Kami berjalan ke tempat bus yang akan menuju kamp pertama untuk kemudian berjalan kembali ke stasiun. Sepanjang perjalanan pulang ke Kraków saya lebih banyak diam. Pengalaman hari ini adalah sebuah pengetahuan baru yang luar biasa bagi saya. Meskipun Auschwitz memaparkan fakta sejarah yang memilukan, namun di sisi lain, banyak cerita – cerita heroik yang mengharukan dan menimbulkan harapan. Saya berkeyakinan, tidak ada satu bangsa pun yang pantas mengalami siksaan seperti itu.

Sebuah kalimat bijak di depan salah satu gedung sempat saya abadikan. “Those who do not remember the past are condemned to repeat it”. Barangsiapa yang tidak mengingat sejarah akan dikutuk untuk mengulanginya. Kata – kata ini ingin menegaskan bahwa sejarah yang kita pelajari akan mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama yang terjadi di masa lalu.

20151215_124039
Salah satu hikmah belajar sejarah (foto dok. pribadi)

Terima kasih untuk semua yang telah setia mengikuti perjalanan Kim dan saya mengunjungi Auschwitz- Birkenau Memorial and Museum hingga bagian terakhir ini. Jika ditanya apakah ini adalah salah satu pengalaman wisata favorit saya, saya akan menjawab “Ya”. Namun jika saya ditanya apakah ingin berkunjung lagi kesana, dengan mantap saya akan mengatakan “Tidak”. Tempat ini telah berhasil membuat saya sedih dan merinding untuk pertama kalinya. Karena itulah, sekali seumur hidup saja cukup!

 

PS: Yang masih ingin membaca pengalaman Kim dan saya mengelilingi Krakow, tunggu di artikel selanjutnya ya!

6 Comments Add yours

  1. Deffa Utama says:

    wah sampai ke camp NAZI di Auschwitz ya menarik sekali. Btw ternyata theme blog kita sama ya, kalau ada waktu mampir ke web saya di deffautama.com 🙂

    Liked by 1 person

    1. sofiehurif says:

      Terima kasih Mas Deffa! Siap, pasti akan mampir ke blognya. Cheers 😊

      Liked by 1 person

  2. serem banget Nor. aku kok jadi keinget film Hunger Game ya, tapi lebih keji ini kayaknya

    Like

    1. sofiehurif says:

      Iya yan! Tulisan ini juga termasuk salah satu yg sangat menguras emosiku. Kemarin bahkan aku ngetik sambil nangis.
      Dengan adanya museum ini kita beneran bisa tahu sejarah dan belajar banyak, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa kini dan masa depan

      Like

  3. twindry says:

    bacanya jadi kebayang film2 jaman perang dunia gitu. apalagi pas musim dingin. film perang dunia kan rata2 latarnya musim dingin ya

    Like

    1. sofiehurif says:

      Iya, perang dunia kedua dimulai September 1939 kalau tidak salah. Jadi biasanya digambarkan saat musim dingin

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s