Ulasan tentang film The Greatest Showman [Spoiler Alert]

Mengawali tahun baru ini, saya menyaksikan sebuah film musikal berjudul “The Greatest Showman” yang diproduseri oleh Michael Gracey dengan aktor utama yang tak lain tak bukan adalah Hugh Jackman. Film ini diadaptasi dari tokoh nyata P. T. Barnum yang dikenal sebagai showman, pebisnis, dan politisi yang hidup pada abad 19 di Amerika (sumber: Wikipedia). Dari beberapa bulan yang lalu, trailer film ini sudah muncul di bioskop. Sebagai penggemar garis keras dari Hugh Jackman, tentu saja saya tak mau ketinggalan. Setelah Le Miserables, Jackman kembali bermain dalam film musikal, dan film ini memiliki aktor pedukung yang oke seperti Zac Efron; Michelle Williams; dan Zendaya, strategi marketing yang bagus, serta lagu tema yang menghipnotis sehingga saya semakin penasaran. Berdasarkan pengalaman saya menonton film ini kemarin, akhirnya saya memantapkan diri untuk menulis review film pertama saya di blog. Jadi, simak ceritanya!

greatest-showman_670
Cover film The Greatest Showman (Sumber Google via http://www.forumcinemas.lv/eng/Event/302295/)

Cerita awal dimulai dari Phineas Taylor Barnum muda (Ellis Rubin), anak seorang penjahit yang bekerja pada seorang tuan yang kaya raya. Seperti layaknya kisah cinta anak remaja, Phin muda kecantol gadis cantik, anak dari majikannya sendiri, yang bernama Charity (Skylar Dunn). Singkat cerita, majikannya marah besar dan mengirimkan Charity ke sekolah asrama. Bak Romeo dan Juliet, kisah cinta mereka tidak berhenti sampai disitu. Phin dan Charity tetap saling berkirim surat dan meyakinkan bahwa suatu saat mimpi mereka berdua menjadi nyata.

Hingga beberapa tahun kemudian, Phin yang tumbuh menjadi pria yang sangat ambisius (Hugh Jackman), datang ke rumah untuk melamar Charity (Michelle Williams) dan membawanya ke New York. Adegan yang cukup menarik bagi saya adalah saat ayah Charity mengijinkan anaknya pergi meski ia menyumpahi Phin bahwa suatu hari anaknya akan kecewa dan kembali ke rumah lagi. Saya sebelumnya membayangkan bahwa ayah Charity akan mengeluarkan senapan dan mengusir Phin jauh – jauh, namun film ini menggambarkan bahwa anak yang sudah dewasa tetap diikhlaskan oleh orang tuanya untuk memilih sesuatu sesuai hatinya meski tidak selaras dengan orang tua.

Beberapa tahun kemudian, setelah mereka menikah dan memiliki momongan, Phin tiba – tiba terkena PHK. Perusahaan kapalnya bangkrut karena kapalnya tenggelam dihantam taifun. Phin yang memiliki motto hidup untuk membahagiakan istri dan anaknya langsung memutar otak. Ia mendapatkan ide untuk membuka museum setelah bermain – main dengan kedua anaknya. Kredit dari bank sudah di tangan, sebuah gedung tua di Manhattan pun langsung dibelinya. Namun apa daya, usaha membuka museum ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Masyarakat sekitar tidak tertarik untuk membeli tiketnya hingga suatu malam salah satu putrinya memberinya sebuah saran yang cemerlang. Ya, ia harus mempertontonkan sesuatu yang sensasional di museumnya. Paginya, ia membuka lowongan bagi orang – orang dengan kemampuan maupun penampilan yang ‘unik’ untuk tampil di museumnya.

Menggambarkan tokoh utama secara manusiawi dengan segala kelebihan dan kekurangan

the-greatest-showman-trailer-2017-billboard-1548
Phineas T. Barnum yang ambisius namun berorientasi pada keluarga (Sumber Gooogle via https://www.billboard.com)

Satu hal yang saya sukai dari film ini adalah bagaimana karakter Phin Barnum sangat apik dimainkan oleh Jackman. Ia digambarkan memiliki obsesi yang besar untuk melepaskan masa lalunya yang identik dengan kasta proletar pada saat itu. Pun saat Phin telah meraih popularitas dengan menggelar pertunjukan bersama anak- anak buahnya yang memiliki keunikan tersebut, ia masih diidentikkan dengan pengusaha hiburan untuk rakyat jelata. Dengan kepercayaan dirinya, ia mampu menggaet Philip Carlyle (Zac Efron), penulis naskah sandiwara, seorang dari kalangan atas. Phin berharap bahwa show yang ia miliki mampu menjangkau kalangan atas.

Perjumpaan dengan Philip berbuah manis yang mengantarkan mereka bertualang ke Inggris untuk menjumpai Ratu Victoria. Di acara itu, Phin tak sengaja berkenalan dengan Jenny Lind (Rebecca Fergusson), seorang penyayi dari Swedia, yang saat itu membuatnya takjub karena Jenny mampu memiliki kharisma yang luar biasa. Dengan harapan ia akan ‘naik level’ sebagai pengusaha hiburan papan atas, Phin pun menawari Jenny tur keliling Amerika dengan Phin sebagai manajernya. Jenny yang sepertinya menaruh hati pada Phin akhirnya menyetujui tawaran tersebut.

Mulailah Phin, yang awalnya dicitrakan sebagai family man dan seorang gentleman yang melampaui batas pada saat itu karena memberikan kesempatan bagi orang – orang ‘unik’ di sirkusnya, berubah menjadi seorang yang hanya memikirkan uang dan popularitas. Ia larut dalam kesibukannya bersama Jenny. Bahkan suatu ketika, Phin mengundang mertuanya untuk hadir di konser pertama Jenny hanya untuk mengusir dan mempermalukan mereka. Harus diakui bahwa di film ini, karakter utamanya sangat manusiawi. Ia tidak dipoles bak orang suci yang tanpa cela. Phin adalah gambaran manusia pada umumnya, yang memiliki sifat baik dan juga buruk. Meskipun pada akhirnya, ia diceritakan kembali ke jalan yang benar, proses yang ia alami sepanjang film patut kita ambil pelajaran agar selalu bersyukur dan menghargai orang – orang yang telah baik dan berjasa di sekitar kita.

Menyajikan potret sosial masyarakat Amerika saat itu secara gamblang

greatestshowman
Philip yang beradegan akrobatik dengan Anne (Sumber Google via http://www.comingsoon.net)

Satu detil yang cukup mengesankan bagi saya adalah pada masa itu, perbedaan status sosial serta ras atau bangsa, besar pengaruhnya di masyarakat Amerika. Sebagai contoh, kisah kasih Phin dan Charity yang ditentang habis oleh ayah Charity yang juga adalah mantan juragan dari ayah Phin. Kisah cinta terlarang lainnya juga dialami oleh Philip, yang notabene seorang bangsawan kulit putih, kepada Anne Wheeler perempuan keturunan Afro- Amerika yang tak lain adalah anggota sirkus Phin. Sebagai orang ningrat, tentu saja orang tua Philip sangat malu melihat putra mereka bergandengan mesra dengan seorang gadis yang lekat stigmanya sebagai budak kala itu.

Bullying terhadap para anggota sirkus juga kerap kali terjadi. Hampir setiap malam masyarakat berdemo untuk mengusir mereka – mereka yang disebut freak dari kota. Tindakan anarkis pun sering dilakukan oleh pendemo untuk mengusik ketentraman anggota sirkus. Dari adegan – adegan ini, saya pun menyimpulkan bahwa perbedaan secara umum belum dapat diterima oleh orang kebanyakan kala itu. Ditambah dengan opini media yang melakukan framing, semakin jatuh nama sirkus milik Phin Barnum ini. Ternyata perang opini di media juga sudah terjadi ya di awal abad 19. Satu pengingat saya,  sebagai manusia millenial untuk mampu berpikir lebih kritis dan objektif terhadap pemberitaan agar tidak terjebak dalam framing yang menyesatkan dan juga berita palsu.

Memotivasi penonton bahwa setiap orang itu unik dan berharga

DRkbhv1X0AENPA3
Lettie saat menyanyikan “This is me”, Ost. The Greatest Showman yang menjuarai ajang Golden Globe 2018 (Sumber Google via https://pbs.twimg.com)

Salah tokoh anggota sirkus yang diangkat  di film ini adalah Lettie Lutz (Keala Settle). Ia  dikucilkan di lingkungannya karena di wajahnya tumbuh jenggot yang dinilai tak lazim dimiliki oleh perempuan. Phin merekrut Lettie ketika ia secara tak sengaja mendengar suara Lettie bernyanyi. Suaranya lembut namun memiliki lengkingan nada tinggi yang mulus. Seketika Phin pun langsung menawarinya untuk bergabung.

Lettie awalnya ragu karena ia menganggap dirinya aneh dan tidak pantas untuk bergabung di sirkus. Namun Phin berhasil meyakinkannya. Akhirnya Lettie pun menjadi penyanyi utama di tiap pertunjukan bersanding dengan Phin. Begitu pun dengan anggota sirkus lainnya. Saat mereka menemui Phin dalam keadaan bangkrut, mereka berkata meskipun Phin sempat mencampakkan mereka, namun mereka sangat berterima kasih kepada Phin karena telah memberi mereka rumah dan keluarga serta membuat mereka merasa berharga. Pada adegan ini, tersirat pesan bahwa setiap orang, apapun kondisinya, mereka berhak menjadi mendapatkan kesempatan yang sama dengan lainnya untuk mengembangkan diri dan berkontribusi dalam masyarakat.

Ada kelebihan pasti ada kekurangannya juga!

Pada saat adegan diatas berlangsung, perasaan haru saya hampir meluap  sampai Hugh Jackman tiba – tiba mulai bernyanyi, yang menurut saya sedikit mengacaukan feeling penonton. Oh ya, di beberapa bagian lain juga menurut saya waktu masuk musik dan bernyanyi agak kurang pas, sehingga seharusnya film mampu lebih mengaduk emosi penonton namun keburu terdistraksi dengan nyanyian.

Namun bagaimanapun, film ini menurut saya adalah salah film yang layak diapresiasi dengan baik. Dengan tema musikal, film ini memiliki skor 8/10 IMDb dan mampu meraih tiga nominasi di ajang Golden Globe 2018 dan memenangkan kategori lagu tema terbaik. Satu hal yang pantas, mengingat pertama kali saya melihat trailer film ini di bioskop langsung dibuat merinding seketika dengan lagu yang dinyanyikan oleh Keala Settle berjudul “This is Me” ini. Hampir seluruh pemainnya menyanyikan sendiri lagu bagian mereka, termasuk Hugh Jackman. Saat proses rekaman untuk lagu “From Now On”, Jackman nekat bernyanyi meski  dilarang dokter pribadinya karena kondisinya cukup lemah saat itu. Akibatnya, ia sempat dilarikan ke rumah sakit setelahnya.

Meskipun jalan ceritanya mudah ditebak serta akhir cerita yang dibuat happy ending ala Hollywood tidak sesuai dengan kisah hidup asli P. T. Barnum, namun pesan motivasi untuk selalu menjadi diri sendiri yang dibawa film ini menurut saya mampu menyentuh ke hati penonton.

Seperti salah satu cuplikan kalimat yang dikatakan oleh Phin Barnum, “No one ever made a difference by being like everyone else”.

Ada yang sudah nonton juga? Yuk, share pendapatmu tentang film ini 🙂

Terima kasih dan semoga bermanfaat

 

 

 

 

2 Comments Add yours

  1. belum nonton dan jadi pingin nonton. ini review kedua tentang film ini yang ku baca, Nor. Anyway itu tokoh utama manusiawi berasa lagi vs tokoh utama di film apa gitu. haha

    Like

    1. sofiehurif says:

      Kalau tokoh utama film yg itu mungkin memang keturunan setengah dewa hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s