Lisbon Story (2): Good Food Good Mood

Golden color of Pasteis de Nata (Sumber: dok. pribadi)

Hola semua,

Melanjutkan cerita tentang perjalanan saya di Lisbon, kali ini saya akan banyak bertutur tentang makanan khasnya. Bagian favorit saya nih, karena di Lisbon makanannya cukup enak terutama pastry dan beberapa snacknya.

Untuk kamu yang belum baca bagian pertama bisa klik disini.

Baca juga: Lisbon Story (1): Castle on the Hill

Pasteis de Nata yang enaknya kebangetan

Sekali makan tidak akan bisa berhenti (Sumber: dok. pribadi)

Masih ingat dong, saat saya mengantri untuk membeli tiket masuk ke Kastil São Jorge?

Nah, saat sedang mengantri, mata saya menangkap kafe kecil di pojokan. Di depan pintunya terpasang papan bertuliskan “Pasteis de Nata”, yang merupakan pastry khas Portugal. Karena rasa penasaran yang dalam akhirnya saya masuk dan memesan dua buah pasteis yang berukuran kecil.

Awalnya saya sedikit ragu apakah bisa saya menghabiskannya. Fyi, saya tidak terlalu suka yang manis – manis. Namun begitu gigitan pertama, setengah roh saya seperti melayang (haha lebay!). Tapi bener lho, pastry ini tidak terlalu manis dan membuat saya ketagihan. Setelah itu, dua kali sehari di pagi dan sore pasti saya selalu melipir ke pattiserie untuk membeli Pasteis de Nata ini. Saya sempat sedih ketika kembali ke Rotterdam membayangkan saya harus ke Portugal lagi hanya untuk menikmati pastry ini. Namun ternyata saya beruntung, di Markthal Rotterdam telah dibuka toko yang menjual produk khas Portugal termasuk Pasteis de Nata favorit saya, yeay! Meski harganya 1.5 kali lipat lebih mahal, hiks.

Selain Pasteis de Nata, snek khas Lisbon lainnya yang wajib kamu coba adalah Kroket Ikan Kod dan juga Carob Cake (cerita tentang Caroube cake ada di bagian selanjutnya, tunggu yah!). Bagi yang penggemar minuman beralkohol bisa mencoba Porto, minuman fermentasi anggur, mirip wine, dengan rasa yang (katanya) lebih manis.

Paladarium, restoran yang penyajiannya seperti makanan rumahan

Menu makan malam di Paladarium. Dessertnya, lupa difoto. (sumber: dok. pribadi)

Setelah puas menyusuri kastil, saya dan travelmate menuruni bukit melewati jalan yang berbeda. Kami mengikuti rombongan di depan yang tampaknya berjalan ke arah sungai. Pada satu titik, kami berpisah dari rombongan tersebut dan memutuskan berhenti untuk makan malam.

Karena tidak terlalu familiar dengan masakan khas Portugal atau Lisbon, kami memutuskan untuk mencari rekomendasinya di Trip Advisor. Dari tempat kami berada, muncul beberapa opsi restoran terdekat di layar.

Oh iya, sebagai tambahan informasi, saya selalu mengecek review di Google karena teringat kisah restoran fiktif di Inggris yang menjadi peringkat nomer satu di Trip Advisor. Harga pun menjadi pertimbangan saya, karena terkadang restoran di tempat wisata mematok harga yang di luar nalar jika dibandingkan dengan makanan yang tersaji. Karenanya, saya tidak serta merta mempercayai begitu saja review di situs – situs wisata tersebut. Restoran yang kami pilih pun biasanya yang terdekat dengan posisi kami. Jadi kami tidak terlalu ngoyo berjalan ke restoran yang jauh. Takut kalau kecewa terlalu dalam (halah).

Setelah melihat menu dan harganya, serta membandingkan review di Trip Advisor dengan review di Google akhirnya kami mencoba mendatangi restoran bernama Paladarium. Paladariun adalah restoran yang memiliki rating terbaik dan kebetulan sangat dekat dengan tempat kami berhenti. Setelah melihat di papan menu depan restoran kami meutuskan untuk masuk. Kami memesan menu pembuka untuk sharing disusul dengan menu utama. Karena beberapa hari sebelumnya di Spanyol (cerita tentang Spanyol akan mulai ditulis setelah seri Lisbon ya!), saya selalu memesan menu ikan, kali ini saya tertarik untuk memesan menu of the day yaitu Entrecote atau daging dekat tulang iga. Cara penyajian masakan di restoran ini tidaklah ala fine dining. Dengan piring logam ringan bercorak bunga yang klasik, saya serasa sedang menikmati masakan di rumah nenek.

Pemilik restoran ini melayani kami dengan ramah. Saat itu kami hanya memesan satu hidangan dessert, karena memang saya berniat mengurangi makanan manis. Beliau dengan senyuman jahil menyisipkan satu lagi sendok kecil di tepi meja saya sambil mengedipkan mata. Rupanya beliau tahu bahwa saya tetap akan mencicipi dessert tersebut hehe..

Dengan rasa yang istimewa dan harga yang tidak lebih mahal daripada harga makanan di restoran kelas menengah Rotterdam, saya merekomendasikan restoran tipikal Portugis dan Mediterania ini, untuk dikunjungi. Menu yang saya rekomendasikan saat berada di Lisbon adalah menu ikan dan seafood. Yang cukup populer di Lisbon adalah Bacalao atau ikan kod yang dipanggang.

Seperti di Spanyol, restoran – restoran di Portugal yang menyajikan makan malam biasanya buka sedikit larut yaitu mulai pukul 7 atau 8 malam.”

Churrasqueira, restoran ayam panggang ala Portugal

Sajian di Churrasqueria Da Paz, tampilannya mungkin kurang meyakinkan, namun rasanya jangan ditanya. (sumber: dok. pribadi)

Hari kedua petang, kami memiliki dua opsi untuk makan malam yaitu Langoustine (Lobster) atau Churrasqueira, alias restoran yang menyajikan ayam panggang atau biasa disebut Frango No Churrasco khas Portugal. Awalnya, kami sempat berhenti di beberapa restoran yang memajang lobster hidup, yang berenang ria di dalam aquarium di depan etalase. Kami terus berjalan melewati pusat kota hingga sampai di sebuah restoran yang berada di persimpangan jalan. Pada awalnya, tidak terlalu memperhatikan karena restoran ini kecil dan lampunya remang – remang. Akan tetapi, saat saya menengok ke dalam, di dinding restoran tampak terpajang foto- foto pemilik restoran dengan bintang – bintang sepakbola seperti David Beckham dan Christiano Ronaldo. Hal itu seketika membuat saya keder untuk lanjut masuk ke dalam. Saya membaca menu yang terpampang di kaca depan pintu. Satu kilo Lobster dihargai 100 Euro. Kami pun mundur teratur bersamaan dengan hilangnya bayangan David Beckham yang tersenyum lebar di foto. Kami mantap makan ayam malam ini.

Sebenarnya Churrasqueria adalah restoran ayam ciri khas dari daerah di Portugal bagian utara seperti Porto, bukan Lisbon. Namun, mumpung sedang berkunjung di Lisbon, kami berusaha untuk menemukan restoran ayam tersebut. Ternyata jumlahnya pun tidak banyak. Dari beberapa rekomendasi di Google, kami memilih yang paling dekat diantara yang terjauh. Meskipun demikian, tidak mudah perjalanan ke restoran ayam yang kami pilih tersebut. Kami harus melewati pusat kota dengan jalanan yang naik turun. Sungguh, perjalanan untuk mencari restoran tersebut bagaikan trekking ke Bukit Nglanggeran, layaknya mendaki gunung lewati lembah namun dengan pemandangan pusat kota.

Kurang lebih 20 menit kami butuhkan dari pusat kota ke restoran yang dituju. Restoran tersebut hampir mirip seperti warung tegal dengan satu pintu dan jendela kaca kecil. Tidak cukup meyakinkan untuk ukuran restoran ayam terbaik di Lisbon versi Google. Begitu kami membuka pintu, pemandangan di dalam cukup mengagetkan. Hampir seluruh kursi di restoran penuh. Terdapat dua orang pelayan yang tersenyum dan menyapa kami ramah dengan Bahasa Inggris yang fasih. Wow, saya pun langsung memberi nilai plus untuk restoran ayam Churrasqueria Da Paz ini.

Tak berapa lama setelah kami duduk, serombongan orang pun datang menyerbu restoran yang mungil ini. Meja penuh terisi dan beberapa orang di depan kami bahkan rela berdiri mengantri, ada juga yang membeli take away alias dibawa pulang. Salah satu pelayan datang menghampiri kami sambil sambil memegang satu piring besar berisi ikan – ikan segar. Ia menjelaskan kepada kami menu ikan yang mereka miliki. Karena kami berniat datang untuk mencicipi sajian ayamnya, awalnya, kami hanya memesan satu ekor ayam. Namun setelah mengetahui rasa ayamnya memang benar – benar enak, kami pun tergoda untuk memesan satu ikan lagi. Dan, keputusan kami memang tepat. Ikan yang dipanggang dengan bumbu sederhana tersebut tak lama kemudian sampai di perut kami.

Kami merasa senang karena menemukan restoran dengan harga lokal yang jauh lebih murah dan rasa yang sangat enak. Kami hanya menghabiskan sekitar 20 Euro untuk seekor ayam dan seekor ikan besar, serta minuman. Cukup murah kan?

Lucunya, hampir tiga puluh menit kami berjalan kaki menuju hotel, naik bukit dan turun lagi, tanpa mengeluh, karena saking bahagianya. Makan malam kami sempurna dan tidak sia – sia berjalan sejauh itu.

Lisbon has brought us a good food yet a good mood! Kota yang jangan sampai kamu lewatkan apalagi jika kamu adalah seorang food traveler. Seperti saya, hehe..

Lalu bagaimana dengan orang – orang yang kami temui?

Ada cerita menarik di bagian ketiga. Jadi tunggu ya kelanjutannya!

Terima kasih dan semoga bermanfaat 🙂

12 Comments Add yours

  1. layangseta says:

    Sayangnya, saya ingin melihat penampilan yang seperti warung tegal itu.

    Like

    1. sofiehurif says:

      Tampilan warungnya bisa di googling 🙂

      Like

  2. Hastira says:

    wah kulinernya menggugah selera

    Like

    1. sofiehurif says:

      Iya, Portugal termasuk negara dengan kuliner yang enak 🙂

      Like

  3. Lastboy says:

    Tulisannya asyik banget, berasa ikut jalan-jalan..hehe, terutama tentang restoran di sana. Nama makanannya juga unik-unik, bahasa sana kali ya. Ngga kebayang kalau saya disodorin daftar menu bakal pilih yang mana, ngga familiar, hahaha…

    Like

    1. sofiehurif says:

      Hehe terima kasih. Iya nama makanannya unik -unik, kalau bingung biasanya saya tanya apakah ada menu dalam bahasa inggris atau bisa juga tanya pelayanannya dalam menu tersebut isinya apa aja 🙂

      Like

  4. Ayam panggang Portugis memang sedap. Pernah coba di Malaysia, mungkin kalau di Portugal nya lebih sedap.

    Like

    1. sofiehurif says:

      Kalau berkunjung ke Porto, daerah asal sajian ayam panggang ini di Portugal, bisa coba! 😀

      Like

  5. Fanny Fristhika Nila says:

    Aku termasuk food traveler :p. Kalo sdg traveling ke suatu negara, tujuan utamaku selain mencoba wisata ekstreme yg mungkin ada, yaa nyobain kuliner2nya. Makanya aku pantang membawa makanan kering dr jakarta ato menghemat budget makan. Justru itu budget terbesarku kalo jalan2 :p.

    Di eropa nth napa kalo seafood itu enaaak banget walo di masak dengan bumbu sangat minimalis ya mba. Pernah coba ikan di rebus tok di Bulgaria, tapi kok ya ueenak :D. Kalo Lisbon aku blm prnh ksana. Nanti kalo kliling eropa lg aku masukin lisbon dlm list 🙂

    Like

    1. sofiehurif says:

      Mencicipi makanan khas di daerah yang dikunjungi emang wajib sih. Minimal satu lah, hehe.
      Iya kalau di Eropa mungkin karena seafoodnya lebih segar, jadi meskipun bumbu minimalis rasa bisa maksimal. Jadi kalau berkunjung ke tempat dekat pantai atau sungai, biasanya sajian seafoodnya seger-seger.
      Iyaa, Lisbon termasuk enak citarasa kulinernya. Wajib dikunjungi 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s