Lisbon Story (3- End): The People and The Marijuana Sellers

Suasana di area Statue of Dome Jose I di malam hari (Sumber: dokumen pribadi)

Hi semua,

Ketemu lagi di bagian terakhir cerita tentang Lisbon. Setelah kemarin saya menceritakan tentang pengalaman berkuliner di sana, kali ini saya ingin bercerita bagaimana kesan saya terhadap orang – orang yang saya temui di kota ini.

Baca Juga: Lisbon Story (2): Good Food Good Mood

Lisbon adalah kota yang ‘siap’ didatangi turis

Begitu kami sampai di penginapan, saya cukup surprise dengan sambutan dan pelayanan staf hotel yang cukup sigap dan sangat perhatian. Hotel yang saya tempati bukanlah hotel yang berbintang banyak, meskipun begitu berdasarkan situs booking.com, hotel ini memiliki banyak komentar positif. Terbukti dari keramahan staff, kamar yang bersih, dan sajian breakfast yang ‘wah’ jika dibandingkan dengan harganya. Sebelum bergegas menyusuri kota, saya juga sempat menanyakan tempat – tempat menarik yang wajib dikunjungi di Lisbon. Resepsionis dengan sabar menjelaskan serta tak lupa memberikan kami boklet wisata gratis yang keterangannya cukup lengkap. Karena kesan baik di awal kedatangan itulah, saya semakin bersemangat untuk menjelajahi kota ini.

Dan benar adanya!

Selama kami berada di kota ini, orang – orang yang kami jumpai sebagian besar dapat menggunakan Bahasa Inggris. Pun, jika ada beberapa yang tidak bisa berbicara dengan lancar, mereka akan berusaha sekali untuk membuat saya mengerti.

Seperti ketika kami berhenti di sebuah kedai kopi dan pattiserie di dekat pusat kota, yang saya tidak ingat nama persisnya. Waktu itu, saya sedikit kebingungan untuk memesan cemilan yang beraneka ragam terpajang di etalase. Saya memang kurang pro dalam memilih tart atau cake sehingga sering sekali terbentur pada pilihan yang salah dan kurang pas di lidah, hehe. Karenanya, sewaktu memilih saya banyak bertanya ke pelayan yang berdiri di samping saya.

Setelah memilih Kroket Bacalao atau Ikan Kod, saya beralih ke area tempat cake yang manis berada. Masih bimbang memilih, akhirnya mata saya pun jatuh pada sepotong cake berwarna cokelat. Pilih saja cake cokelat, kata saya dalam hati. Rasanya pasti tidak akan mengecewakan. Saat hendak membayar, saya bertanya apakah ini cake cokelat kepada pelayan itu dalam Bahasa Inggris. Ia menggelengkan kepala sambil menjawab dengan gagap.

No“, katanya. Saking penasarannya saya menanyakan terbuat dari apakah cake tersebut. Ia pun berusaha sekali menjawab dalam Bahasa Inggris yang tak sengaja tercampur dalam Bahasa Portugis.

In English it is Caro...”, saya tidak yakin dengan apa yang diucapkannya. Saya kemudian menggeleng, “Sorry, I’ve never heard about this. But is it delicious?

Saya tidak yakin pernah mendengar tentang Caro atau entahlah apa itu namanya. Namun saya ingin memastikan apakah cake ini enak. Sedikit melirik kembali ke etalase, cake yang saya pesan ini tinggal dua potong saya. Pasti enak, karena laku keras begini. Ia pun mengangguk.

Lucunya, saat saya dan teman seperjalanan sedang menikmati cake tersebut, pelayan tersebut mendekat dan menunjukkan kepada kami sebuah foto dari internet.

“This one. This is Carob tree.“, serunya memperlihatkan gambar sebuah pohon besar menjulang. Gambar selanjutnya adalah gambar Buah Carob yang mirip dengan Buah Asam Jawa. Setelah mengucapkan terima kasih atas usahanya untuk menjelaskan kepada kami, kami yang masih tetap penasaran langsung googling tentang Buah dan tanaman ini.

Ternyata, Carob atau Carobe (diambil dari Bahasa Arab ‘kharrūb’) sedang cukup hits di daerah Mediterrania, seperti Portugal, Yunani, dan Malta. Carobe awalnya bukan merupakan tanaman budidaya, namun saat ini keberadaannya sedang sangat diperhatikan karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar makanan, terutama cake. Carobe cake memiliki tekstur, rasa, dan warna yang mirip dengan brownies cokelat. Karena rasa alaminya yang manis, saat ini Carobe banyak digunakan sebagai pengganti cokelat dan bisa didapatkan di toko – toko makanan sehat (sumber: Wikipedia).

Saya terkesan atas keramahan orang – orang yang bersinggungan langsung dengan turis di Lisbon. Meskipun Bahasa Inggris mereka kurang lancar, mereka tetap berusaha untuk membantu. Hal itu menjadi nilai tambah dari perjalanan saya kali ini ke Lisbon, selain karena citarasa Carobe yang manis alami tanpa tambahan gula tentunya.

Pemandangan sekitar Estatua de D. Pedro IV yang selalu ramai turis (sumber: dokumen pribadi)

Penjual Marijuana dan Kokain yang tersebar di tengah kota

Sebagian besar waktu kami habiskan di tengah kota Lisbon. Meskipun Lisbon cukup luas, kami termasuk sukses menjelajahi separuh kota dengan berjalan kaki. Saat kami berjalan kaki di pusat kota, terutama di daerah yang ramai turis berlalu lalang, beberapa pria berdiri dan berjalan mondar – mandir sambil memanggili turis yang lewat.

Baca Juga: Lisbon Story (1): Castle on the Hill

Waktu itu hari sudah gelap dan kami memutuskan untuk melewati pusat kota sembari berjalan pulang ke hotel. Kami melewati jalanan dimana kanan – kirinya didominasi oleh aneka restoran. Beberapa pria yang kami lihat tadi memegang kertas menu dan berusaha menjajakan restoran tempat mereka bekerja. Kami baru saja makan di Restoran Paladium sehingga sudah tidak tertarik lagi untuk makan. Saya kembali teringat, bahwa orang – orang Eropa Selatan seperti Portugis dan Spanyol, memiliki jam makan yang lebih malam dibandingkan dengan orang Belanda. Umumnya, jam makan malam di atas pukul 8.30 malam. Jadi jangan heran, jika sebagian besar restoran di negara- negara ini baru buka pukul 8 atau bahkan 9 malam. Sedikit membuat derita bagi orang – orang yang terbiasa makan malam maksimal pukul 7 seperti saya.

Terus terang saja, saya cukup gerah dengan cara mereka menarik pengunjung. Beberapa ada menyerahkan menu dengan paksa dan terus mengejar meski kami mempercepat langkah. Karenanya, saya selalu mengibaskan tangan sebelum ada orang baru lagi yang mendekat. Hingga tiba- tiba, seorang pria bertopi mendekati kami.

“Psst.. psst.. marijuana, marijuana!”, saya sempat menghentikan langkah namun segera menggeleng cepat. Kami berjalan lagi. Seorang remaja kembali mendekat dan membisikkan hal yang sama, Marijuana. Oh My Lord, apakah ini daerah peredaran obat – obatan? Kami memang berjalan cukup jauh dan tidak menyadari bahwa suasana semakin sepi. Mereka memang tidak memaksa saat kami menggelengkan kepala, namun tetap saja saya tidak biasa dengan kondisi semacam ini. Agak khawatir tersesat, akhirnya saya pun membuka Gmaps, kami kemudian menemukan jalanan yang lebih ramai. Di tengah keramaian itu pun, sempat – sempatnya kami ditawari lagi.

“Hello, want some marijuana?“, saya menggeleng lagi untuk kesekian kali.

“Coca? Don’t worry it’s legal!“, katanya lagi.

What?“, okay jujur saya cukup kaget dengan semua penawaran ini. Jika di Belanda, menggunakan dan memiliki marijuana atau ganja dalam jumlah tertentu memang tidak akan dikriminalisasi. Namun, tempat untuk mendapatkan barang tersebut diatur sangat ketat dan hati – hati oleh pemerintah. Bagi yang ingin membeli, bisa mendapatkannya di tempat khusus yang disebut Coffee Shop dan wajib menunjukkan kartu identitas karena yang diperbolehkan membeli adalah mereka yang usianya di atas 18 tahun. Konsumsinya pun tidak boleh di tempat umum. Jika melanggar, bisa diamankan oleh petugas. Namun di Lisbon, saya sempat syok dengan banyaknya penjual ganja yang bersliweran di tengah kota. Nah satu lagi, mereka bahkan menjual Coca atau Kokain, yang saya tidak yakin, jika zat ini diperbolehkan di Belanda untuk dikonsumsi secara bebas. Mereka bahkan mengklaim itu legal! Waduh, saya mendadak ingin tahu benarkah semua ini legal? Kan cukup banyak itu fraud kepada turis yang menawari obat – obatan terlarang dan berakibat sang turis bisa saja ditangkap atau dijebloskan ke penjara.

Tak perlu takut jika ditawari marijuana, mereka hanya berusaha menjual bukan memalak, namun tetaplah waspada. Usahakan selalu berhenti di tempat yang ramai.

Saya pun membuka mbah Google.

Ternyata sodara – sodara, Portugal sudah memiliki ketetapan hukum sejak tahun 2001 untuk mendekriminalisasi kepemilikan pribadi atas marijuana dan obat – obatan terlarang, termasuk kokain dan heroin. Dekriminalisasi bukan berarti dilegalkan penggunaanya. Dekriminalisasi di dalam hal ini berarti jika seseorang memiliki barang tersebut dengan jumlah sesuai aturan yang berlaku, tidak akan diproses secara hukum dan mendapatkan hukuman maupun denda. Wow, speechless!

Lalu, bagaimana pengaruh kebijakan ini terhadap jumlah pengguna ganja dan obat – obatan tersebut di Portugal?

Menurut Greenwald, kebijakan ini mendatangkan efek positif bagi masyarakat. Di tahun 2006, prevalensi pengguna semua kategori obat-obatan dan ganja cenderung menurun drastis. Memang, pada awal disahkannya aturan ini, pengguna remaja cenderung naik, namun itu hanyalah sementara. Pada tahun – tahun selanjutnya pun jumlah pengguna di semua lini usia turun drastis dibandingkan tahun 1999 sebelum disahkannya peraturan ini. Efek baik dari aturan ini juga membuat para pengguna tidak malu untuk berobat ke pelayanan kesehatan karena mereka tidak khawatir akan dikriminalkan sehingga banyak yang akhirnya sembuh dari kecanduannya. Artikel lengkapnya dapat kamu baca di link ini.

Hmm, saya pun jadi berpikir, mungkin kalimat bijak (sepertinya dari Novel Andrea Hirata) yang mengatakan ” pasir yang semakin erat digenggam akan semakin banyak yang tumpah” ada benarnya juga. Sifat dasar manusia yang semakin dikekang akan semakin penasaran untuk melanggar. Dan hukum yang berlaku di Portugal adalah antitesis dari kalimat tadi. Dan kabar baiknya, di Portugal sistem ini memiliki output yang menjanjikan secara positif. Saat tidak dikriminalkan malah angka prevalensi penggunanya menurun.

Saya bukanlah pengguna, bahkan selama di Belanda, tidak pernah sekalipun saya tertarik untuk mencoba ganja dan kawan – kawannya dalam bentuk apapun. Dan meskipun peraturan ini berefek positif di Portugal, bagaimanapun penggunanya masih akan tetap ada. Perlu ada usaha lain untuk mencegah remaja atau anak – anak muda untuk dapat mengalihkan pikiran mereka dari keinginan untuk mencicipi barang – barang tersebut.

Salah satunya dilakukan oleh seorang pemuda yang kami jumpai saat sedang duduk – duduk di tepi Sungai Tagus. Dengan sopan ia mendekati kami dan menjelaskan proyek pengumpulan dananya untuk sekolah sepakbola gratis bagi anak – anak di daerah slum atau kumuh di Lisbon. Ia mengatakan, sepakbola merupakan salah satu penyelamat anak – anak tersebut agar tidak terjerat dalam perdagangan narkoba. Sepakbola memberikan mereka cita – cita yang tinggi untuk meraih mimpi meskipun kondisi hidup mereka yang kurang beruntung. Hal ini tentu saja terinspirasi dari salah satu pemain sepakbola yang terkenal dan sukses dari Portugal yaitu Christiano Ronaldo.

Bertemu dengan pemuda ini, menguatkan kesan baik saya terhadap kota ini. Kota ini memang tidak sempurna, namun orang – orang baik yang saya jumpai selama di sini menumbuhkan harapan yang baik dan optimisme.

-Lisbon Story Tamat-

6 Comments Add yours

  1. Dini Tiara says:

    haha unik banget ya, biar dikata legal, tetep aja gak ada yg bisa jamin gak kenapa2, drpd kena resiko yg nggak2 di negeri org mending jauh2 sih ya..

    Like

    1. sofiehurif says:

      Iya, tujuan ke Lisbon juga bukan utk icip icip barang begitu juga hehe. Terima kasih ya sudah mampir dan membaca 🙂

      Like

  2. Dini says:

    Seru banget sih, tapi denger2 di sana banyak copet juga ya?
    Anyway, klo soal ganja atau obat2 lainnya itu amannya ngga “tertarik” sih pas jalan2 ke luar negeri even itu legal, ngeri banget kenapa2 klo bkn di negri sendiri haha

    Like

    1. sofiehurif says:

      Kalau copet rata-rata bisa dijumpai di semua kota besar Eropa. Paris dan Amsterdam juga ganas copetnya hehe
      Iya, saya juga nggak tertarik utk mencoba coba
      Terima kasih ya sudah mampir dan membaca 🙂

      Like

  3. Hastira says:

    seru sekali ceritanya, mksh sudah abnyak bercerita

    Like

    1. sofiehurif says:

      Terima kasiih sudah membaca! Alhamdulillah jika bermanfaat 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s