Summer vacation: tetap ‘adem’ saat di Roma

Pemandangan Colosseum di siang hari sumber: dok. prbadi

“Seribu satu jalan menuju Roma”

Kalimat bijak tersebut pasti sudah tidak asing di telinga. Meskipun sudah kesana namun belum tentu bisa menaklukkannya. Mirip – mirip seperti pasukan Kekaisaran Ottoman, yang belum pernah sekalipun berhasil menaklukkan Roma. Begitu pun dengan saya yang liburan musim panas tahun lalu merasa masih gagal untuk menikmati kota ini seutuhnya.

Jujur, saya agak sulit untuk menuliskan pengalaman berkunjung ke sebuah tempat jika saya menjumpai pengalaman yang tidak mengenakkan selama di sana. Perlu berpikir panjang agar cerita saya tidak terkesan skeptis maupun pesimis terhadap kota tersebut. Karenanya, selain bercerita tentang plus minus perjalanan saya ke Roma di musim panas tahun lalu, tak lupa juga tipsnya supaya dapat terhindar dari hal – hal yang kurang menyenangkan dan tetap hepi selama di kota ini. Ehem.

1. Ingin merasakan sensasi teriknya matahari musim panas? Datanglah di Bulan Juli

Kacamata hitam is a must saat panas dan silau. sumber: dok. pribadi

Sobat-sobatque sekalian, anggapan bahwa musim panas di Eropa tidak dapat menggelapkan kulit dan memanaskan jiwa raga harus kalian tepis jauh-jauh. Tahun lalu, kami “beruntung” bisa merasakan sensasi 36 – 40 derajat di Roma saat berkunjung di Bulan Juli. Jadi bagi yang ingin mendapatkan kulit tanned yang seksi, saya merekomendasikan untuk membooking tiket pada kurun waktu Juli hingga Agustus.

Kalian senang berada diantara keramaian?

Sungguh tepat sekali untuk datang ke kota ini di musim panas. Selain akan bertemu dengan banyak sekali pengunjung, kalian yang tidak memiliki kesulitan ekonomi pastilah bahagia dapat mengunjungi kota ini selama Summer. Tak perlu panik akan harga hotel yang tinggi dan harga tiket naik. Saya yakin kalian akan tetap mampu dan baik-baik saja.

Namun jika kalian adalah anggota klub pecinta “sitting under the shadow”, seperti saya, ada baiknya kalian merencanakan berkunjung sekitaran akhir September- Oktober atau Maret-April, dimana matahari belum terlalu banyak diskonnya. Harga hotel dan pesawat pada kurun waktu tersebut juga relatif lebih murah hingga lebih dari 20%. Tapi tetep ya, pesennya harus dari beberapa bulan sebelumnya.

Yang jelas lebih nyaman menurut saya juga pada kurun waktu tersebut tidak terlalu ramai sehingga kalian akan terhindar dari…

2. Scam saat ingin memasuki tempat wisata di Colosseum dan Vatikan!!

Scam-Alert-Sign
Banyak modus scam di Roma, waspadalah!. sumber: Google

Saya memberikan 2 tanda seru karena memang ini salah satu yang membuat liburan saya agak kurang nyaman.

Jadi begini, saya dan teman seperjalanan, Adit, sudah memesan tiket secara online dari jauh hari karena dengar-dengar saat Summer akan banyak sekali orang yang mengantri untuk membeli tiket on-site, sehingga untuk menghemat waktu dan tenaga sebaiknya membeli tiket online sebelum berangkat.

Namun, tips tersebut tidak selalu berlaku kawan, jikalau 5000 orang lainnya juga berpikir hal yang sama. Adalah kita, kaum yang berusaha keras menjadi anti-mainstream tapi gagal pada akhirnya karena yang  anti-mainstream itu saking banyaknya, sehingga jadi mainstream. Nah lo!

Terutama untuk tiket Colosseum, untuk musim panas, saya merekomendasikan membeli di tempat saja. Karena antriannya lebih sedikit daripada antrian dengan tiket online. Dan untuk sobat-sobat yang menginginkan tur ke Colosseum to the higher level seperti tur dengan guide, sangat direkomendasikan untuk membeli tiketnya langsung ONLINE di website yang resmi. Banyak sekali scammer yang berkeliaran menawarkan tur guide plus iming – iming masuk Colosseum tanpa antrian. Ingat sodaraku, rayuan mereka untuk tur gudie ke tiga tempat itu hanyalah bohong belaka. Pertama, Mereka tetap akan masuk dari jalur guide tidak resmi yang letaknya di sebelah jalur tiket online dengan antrian tak kalah banyak. Kedua, sang guide hanya akan menjelaskan selama 20 menit  di Colosseum dan sisa dua tempat lainnya, Roman Forum dan Palantine Hill, dijanjikan akan dilanjut  2 hingga 4 jam setelah tur tanpa ada kejelasan, notifikasi, maupun contact person yang jelas. Jasa tur guidenya sendiri bahkan lebih mahal dari harga tiket.

Dan kami adalah korbannya! Hiks.

Sekali lagi kalian harus waspada dan tetap istiqomah untuk beli tiket sendiri di loket atau online di web resmi.

Untuk Museum Vatikan, wah lebih parah lagi!

Begitu kami berbelok ke line antrian dengan tiket di tangan, kami langsung dicegat oleh para scammer yang dress up banget, pakaian rapi dan name tag, seolah-olah seperti petugas resmi dari Vatikan. Para scammer tersebut biasanya langsung menanyakan tiket. Jikalau kalian tidak waspada mereka akan dengan cepat menggiring kalian untuk mengiyakan tawaran guide yang juga penuh tipu daya tersebut. Untung kami sudah lebih siap dan langsung menolak.

Oiya di pintu masuk Museum Vatikan, para pemegang tiket online mempunyai jalur sendiri. Jadi kalian harus berjalan hingga ujung antrian dan terdapat jalur di bagian lain di depan antrian on-site. Jalur tersebut biasanya dijaga petugas militer juga. Jangan ragu untuk bertanya pada petugas resmi dan jangan takut maupun segan untuk menolak para scammer berpakaian necis itu.

Ingat, ini daerah selatan Bung! Banyak scammer! Waspadalah!

3. Rasakan sensasi menyejukkan di dalam museum maupun kuil-kuil bersejarah di Roma

Pemandangan altar Sinagog Tempo Maggiore. sumber: dok. pribadi

Terlanjur pesen tiket untuk Summer dan takut kepanasan di luaran? Tak perlu khawatir, sob. Karena banyak sekali landmark di Roma ini yang bisa kamu kunjungi sekaligus  untuk ngadem.

Seperti Pantheon dan Museum Vatikan yang memberikan kesejukan luar biasa saat berada di dalamnya. Kabar baiknya, Pantheon ini gratis, tanpa tiket masuk dan berada di tengah pusat kota Roma. Tempatnya lumayan nyempil namun mudah kok untuk dijangkau.

Tempat ibadah lain yang kami kunjungi karena ingin menghindari udara yang menyengat adalah Tempo Maggiore di Roma, yang merupakan sinagog pertama dan terbesar di Roma. Tempat ibadah orang Yahudi? Yak, kamu benar, ehem.

Memasuki tempat ini kami harus membayar 7 Euro dan kami tidak bisa bebas masuk keluar, harus dengan guide. Seorang gadis waktu itu yang menjadi guide dan menjelaskan asal mula dibangunnya sinagog ini. Kisah pahit manis kehidupan orang Yahudi kala itu memang cukup menarik untuk disimak lho.

Yang istimewa, bangunan Tempo Maggiore merupakan akulturasi antara gereja Katholik dan sinagog pada umumnya. Sambil menikmati semilirnya udara di ruangan, saya sempat memperhatikan bahwa sinagog konsepnya agak mirip dengan masjid, yaitu tempat ibadah pria dan wanita yang terpisah. Meskipun gayanya adalah campuran, bedanya dengan gereja Khatolik, dalam sinagog ini tidak terdapat patung maupun simbol berbentuk manusia di altar dan sekelilingnya. Hmm, lumayan memberikan pengetahuan kepada kami tentang agama yang kadang kurang dikenal tapi sering disebut-sebut ini. Hehe.

Lalu bagi kalian yang tetap pengin ngadem gratisan gimana? bisa juga kok! Masuk aja ke Zara, Benetton, atau ke toko-toko besar lainnya. Syaratnya, harus tahan godaan ya. Eh!

Oiya, karena udara yang panas sekali, jangan lupa banyak minum air putih. Untuk setiap turis di Roma, pemerintah kota menyediakan beberapa titik sumber air gratis yang semakin panas udara, semakin segar dan dingin airnya. Cukup untuk menghilangkan dahaga di cuaca yang kering ini. Namun sayangnya, di beberapa titik, air dibiarkan mengalir begitu saja hingga kadang di puncak musim panas, pusat kota Roma maupun Vatikan sering kekurangan air.

Saran bagi yang kurang nyaman dengan udara panas, lebih baik mengunjungi tempat – tempat wisata yang open air di atas jam 3 sore. Jangan lupa cek jam buka tutupnya ya, sehingga tidak kecelik kalau datang agak sore. Point of interests di kota Roma cukup berdekatan kok, seperti Colosseum, Trevi Fountain, Piazza Venezia, Spanish steps, dan tentu saja pusat kotanya. Di sana, kamu bisa naik bus atau tram dengan tarif yang tidak terlalu mahal.

4. Selalu pastikan jam buka restoran sebelum lapar

Salah satu restoran pizza tradisional di Roma. Rasanya istimewa! sumber: dok. pribadi

Berbeda dengan restoran di Belanda yang relatif buka sepanjang hari, restoran di Roma memiliki jam buka tertentu untuk makan siang maupun makan malam. Restoran pasta dan pizza biasanya buka untuk malam hari (dinner saja) mulai dari jam 7 malam hingga dini hari. Namun ada beberapa juga yang memiliki dua waktu khusus untuk lunch dan dinner yang bisa kamu lihat di website restoran atau Google.

Lalu apa yang bisa kamu lakukan jika restoran terdekat tutup saat makan siang?

Di Roma, bakery umumnya buka di siang hari. Dan buat kamu penggemar pizza, dapat menemukan pizza dengan beberapa varian di bakery tersebut. Saat itu, saya asal saja masuk dan memesan pizza di sebuah bakery kecil di pinggiran pusat kota. Saya terkesan dengan pizzanya yang enak dan krispi. meski harganya murah Pemiliknya juga sangat baik. Ia memberi kami bonus beberapa buah kue kering untuk dicemil.

Menurut saya, penduduk kota Roma ini cukup ramah dan siap menyambut turis asing. Banyak dari mereka tidak lancar berbahasa Inggris namun mereka selalu berusaha untuk menjelaskan kepada turis, baik dengan berbicara Bahasa Inggris seadanya maupun sampai membuka Google Translate lho.

Jika ingin merasakan citarasa asli Roma, pilihlah resto kecil dan tanyakan kepada orang lokal yang kamu temui untuk rekomendasi. Resto pizza atau pasta tempat para warga Roma datang biasanya memiliki harga yang lebih miring daripada resto yang mainstream untuk turis.

5. Santai dan jangan terburu-buru. Good or Bad things happened musti dinikmati.

Selfie wajib di depan Piazza Venezia. sumber: dok. pribadi

Pada akhirnya, meskipun tidak selalu mudah, kita harus berusaha santai, noto pikir, kalau kata orang Jawa, dan berusaha selalu menikmati dan mensyukuri setiap pengalaman yang didapatkan.

Yah, namanya juga hidup banyak asiknya, meski kadang nggak asik juga. Begitu pula sewaktu traveling yekan?

Setelah liburan ke Roma kemarin saya jadi sadar akan satu hal bahwa saya harus lebih sabar, jangan grusa grusu. Kalau panas ya ngadem dulu, kalau antrinya panjang ya dinikmati atau muter-muter dulu ke tempat lain sambil nanti datang lagi kalau sudah sedikit sore. Satu tips, jam peak antrian itu ternyata bisa diprediksi sekitar pukul 10 hingga 12 siang. Kalau memang tidak ingin menjumpai panas menyengatnya, ya untuk rencana traveling selanjutnya direncanakan untuk tidak datang di saat musim panas.

Namun apapun itu, kalau kita tetap berusaha menikmati, mau panas ataupun dingin, tetap akan terasa menyenangkan

Jadi, ada yang sudah pernah ke Roma? Share juga dong pengalamanmu!

2 Comments Add yours

  1. Wah, informasi yang sangat membantu banget kak. Aku punya rencana ke Roma tahun depan (insyaallah). Berarti rekomen beli segala tiket museum itu on the spot ya? Karena aku ke sana kebetulan untuk business trip sih. Jadi bukan hari libur.

    Like

    1. sofiehurif says:

      Halo Sulung, untuk ticket masuk ke Museum Vatican sebaiknya dipesan online karena ada jalur khususnya yang tidak perlu mengantri lama. Kalau kamu datang pas Summer, untuk ticket Colosseum lebih baik pesan on the spot, namun kalau sudah beli yang online dan ingin menghindari antri panjang, bisa datang pagi sekali sebelum jam buka atau setelah jam 12 siang. Tiketnya bisa untuk 2 hari kok. Bulan Juli- Agustus rata2 tiap hari selalu ramai karena memang musim liburan.
      Terima kasih ya sudah membaca 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s